Berpelukan Sampai Terlelap



Sesungguhnya, yang menjadi puncak dalam kontak seksual bukanlah kenikmatan (pleasure), melainkan kepuasan (satisfaction). Kenikmatan seksual lebih bersifat fisik, yang menyangkut hal-hal seperti posisi hubungan seksual dan orgasme.


Dalam melakukan kontak seksual yang mengejar kenikmatan, biasanya pria dipandang sebagai pihak yang tergesa-gesa ingin bercinta, sementara wanita ingin terlebih dulu dimanja berlama-lama. “Sekarang mulai banyak wanita yang memilih berhubungan seks tanpa menikmati foreplay dengan santai, maunya cepat-cepat selesai. Padahal, pria juga diam-diam ingin bermanja-manja,” ungkap psikolog seksual Zoya Amirin, sedikit menyayangkan.

Akan lain ceritanya jika Anda dan pasangan berada di titik kepuasan, yang sifatnya psikologis. Aktivitas seksual yang berapi-api atau frekuensi orgasme tak lagi jadi soal, karena yang menjadi tujuan utama untuk bercinta adalah agar Anda dan pasangan bisa sama-sama merasa happy. Apalagi, ketika kemampuan tubuh untuk berhubungan seks cenderung menurun seiring pertambahan usia, tiap pasangan akan kembali pada rasa cinta di antara mereka.

Zoya berpendapat, keterikatan emosional erat hubungannya dengan berbagi rahasia. Kuncinya adalah menjadi ‘telanjang’ secara psikologis di hadapan pasangan, dan saling memahami rahasia, yang tergelap dan terdalam sekalipun. Atau, melakukan ritual baru yang seksi hanya untuk dinikmati berdua. Keterikatan emosional yang timbul pun akan  makin kuat dan eksklusif, sehingga Anda dan pasangan dapat lebih saling mengerti.
Memang, menunjukkan kerapuhan diri sendiri di hadapan orang lain pun bukan sesuatu yang mudah. Setiap orang memiliki ketakutan untuk menjadi rapuh di hadapan orang lain, dan ini berkaitan dengan kerelaan untuk berbagi. Apalagi, menurut Zoya, manusia melakukan sesuatu hal karena salah satu dari dua alasan utama: karena takut, atau karena cinta.

Saat seseorang jatuh cinta, ia akan dipenuhi berbagai ketakutan. Tetapi, hidup diliputi rasa takut tentu tak enak rasanya. Karena itu, bila ingin mengalami cinta, seseorang tak boleh tinggal diam dalam penyangkalan.

Maka, jujurlah pada diri sendiri dan komunikasikan ketakutan Anda kepada pasangan secara asertif. Dengan berbagi dan menerima pasangan seputar kerapuhan masing-masing, Anda belajar menerima kekurangannya sebagai bagian dari rasa cinta Anda. “Bila Anda hanya mencari kesempurnaan, hubungan yang dijalani dengan pasangan akan terasa seperti persaingan yang terus-menerus, dan itu akan sangat melelahkan,” tutur Zoya.

Zoya menilai, bertatapan dan berpelukan sebelum terlelap dapat membangun keintiman dan mempererat ikatan emosi. Banyak penelitian menunjukkan, bertatapan mata dan berpelukan dapat menghasilkan hormon endorfin yang mampu menciptakan bond atau ikatan emosi antara dua orang. Keterikatan ini akan terasa  makin signifikan apabila kedua gesture ini terjadi secara timbal balik dan dilakukan dengan tulus.
Apabila bentuk kemesraan yang paling mendasar ini tidak pernah dilakukan, yang akan muncul justru hal-hal lain yang seolah mirip dengan kedekatan emosional, tetapi sebenarnya bukan. “Kontak fisik tidak selalu sepaket dengan hati, apalagi ketika seseorang tengah berusaha melepaskan hasrat seksualnya,” tegas Zoya. Ia menilai, keterikatan emosional kini  makin mahal harganya, terutama di kota besar yang masyarakatnya cenderung individualis.

Diakui Zoya, proses penyesuaian dalam membangun keterikatan emosi dengan teman seranjang bisa memakan waktu yang tak sebentar. Mulailah dengan belajar menerima kebiasaan-kebiasaan pasangan, termasuk yang dilakukannya menjelang tidur. Jangan menertawai atau mencelanya, apalagi menganggapnya aneh, karena hal ini ibarat ritual pasangan Anda, yang sifatnya amat pribadi dan sudah menjadi bagian  dirinya.

“Kecenderungan untuk mencela kebiasaan orang lain inilah yang sering kali membuat pasangan enggan terlihat rapuh, bahkan di hadapan Anda,” ungkap Zoya. Sebaliknya, bila  Anda justru bisa mengungkapkan bagaimana kebiasaan-kebiasaannya tampak menarik di mata Anda, pasangan pun dapat mulai merasa nyaman di depan Anda dan rela berbagi zona intimnya.

Kebutuhan Teman Tidur

Menurut psikolog seksual Zoya Amirin, sebagai makhluk sosial tiap manusia memiliki zona-zona psikologis, yaitu tempat seseorang mengizinkan orang lain berada dekat dengan mereka dalam batasan-batasan tertentu. Hal ini muncul dari kebutuhan manusia untuk bersosialisasi dengan orang lain, agar mereka dapat menjalani kehidupan secara manusiawi. “Cara seseorang memberikan batasan itu tergantung pada seberapa rela ia menjadi rapuh (vulnerable) dan telanjang (naked) secara psikologis di hadapan orang lain,” jelas Zoya.
    Ketika manusia berhubungan dengan manusia lainnya, akan timbul suatu keterikatan emosional yang pada dasarnya menyenangkan. Hal ini sejalan dengan salah satu dari lima aspek dalam teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, yaitu kebutuhan akan kasih sayang dan rasa memiliki (love needs and belongingness). Jadi, ketika seseorang mencintai dan dicintai, ada hal-hal yang dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan ini, dan seks adalah salah satunya
Di sisi lain, berdampingan secara fisik tidak selalu menjamin adanya kedekatan emosional. Ada kalanya seseorang hanya mau berdekatan secara fisik, namun merasa tidak nyaman secara emosional dengan pasangannya. Akhirnya, ia enggan untuk berbagi zona psikologisnya yang paling intim. Menurut Zoya, tak sedikit pria yang masih ingin memiliki zona pribadinya sendiri, bahkan ketika ia berada di ranjang bersama pasangannya.
Karena tak terbiasa menghadapi perasaannya sendiri, mereka tumbuh dengan hasrat seksual tinggi, namun minim mengekspresikan rasa kasih sayang. Ketika mengalami stres, mereka tidak terbiasa untuk mengungkapkan perasaannya seperti halnya wanita. Seks pun menjadi jalan yang paling mudah untuk mengungkapkan rasa cinta atau kasih sayang.
    Padahal, tidur bersama adalah kesempatan pasangan belajar merelakan zona pribadi untuk dinikmati bersama orang lain. Ketika hal ini mampu dilakukan secara timbal balik, akan ada ketenangan yang timbul dari alam bawah sadar, yang dapat dirasakan oleh keduanya ketika tidur. Adanya rasa nyaman ketika berada dekat dengan pasangannya adalah tanda keintiman berkualitas, bukan semata berhubungan seks tanpa koneksi emosi. Menjalani hubungan seperti ini mampu membuat Anda merasa dicintai. (PUJI MAHARANI)


BACA JUGA :
  1. Ketika Suami-Istri Tak Intim Lagi karena Jarang Berciuman
  2. 10 Macam Klimaks pada Perempuan Saat Bercinta
  3. Tahapan Gairah Seks Pria Menurut Umurnya
  4. MEMBANGKITKAN GAIRAH SEKS DENGAN FENG SHUI
  5. Posisi Seks Paling Aman Untuk Wanita Hamil
  6. Menyalakan Gairah Seks Saat Hamil
  7. Kemampuan Seks Perempuan Bisa Dilihat dari Kebiasaan Duduknya
  8. Orgasme Payudara Sebuah Orgasme LUAR BIASA
  9. Fakta Kesehatan Seksual Tentang Payudara Perempuan
  10. Cara Bertahan Lama di Ranjang dan Sembuhkan Ejakulasi Dini
  11. Terapi Sayur Dan Buah Untuk Kesuburan Suami Dan Istri
  12. Operasi Membesarkan Penis, Berhasil atau Sia-Sia?
  13. Pentingnya Bercinta Teratur dalam Kehidupan Pernikahan
  14. 3 Resep Jus Pembangkit Gairah Seksual
  15. Rahasia Untuk Membuat Istri “Gila” di Ranjang
  16. Rahasia Foreplay yang Hebat dan Bagaimana Menguasainya
  17. Bentuk Tubuh Wanita Tentukan Jenis Posisi Seks
  18. Seberapa Ahli Anda Menguasai Gaya Bercinta?
  19. Sepuluh Gejala Kanker Penis
  20. Pertolongan Pertama pada Cedera Penis