Manfaat Sinar Matahari

Tidak seorang pun ragu bahwa kita memerlukan sinar matahari untuk mendapatkan vitamin D dengan baik. Vitamin D sangat penting sebagai katalisator untuk penyerapan kalsium dan fosfor, memproses penyerapan vitamin C dan mencegah berbagai macam pencetus kanker. 



Defisiensi atas vitamin D sangat berkaitan dengan peningkatan resiko berbagai macam kanker, misalnya : kanker esophagus (kerongkongan), pankreas, leukemia dan kolon1). Tetapi, pada dua dasa warsa terakhir ini, banyak orang menyarankan agar kita menghindari paparan sinar matahari pada tengah hari dan harus menggunakan ‘sunblock’ (tirai surya) sebelum dan beberapa kali saat kita berada dalam paparan sinar matahari. Padahal cara ini justru membuat kita hanya bisa mendapatkan “vitamin D yang bermanfaat” dan berbagai “manfaat sinar matahari yang lain” dalam jumlah yang kecil.

Sunblock (sunscreen, tabir surya)
Matahari telah menyinari Bumi lebih dari 4 milyar tahun. Apakah telah terjadi perubahan besar dalam 80 tahun terakhir ini sehingga sinar matahari justru menjadi begitu berbahaya dan mengakibatkan banyak bencana termasuk sinar matahari? Bukankah sejak 80 tahun terakhir ini, manusia juga makin cenderung berada di dalam ruangan ketimbang bekerja di luar ruangan? Haruskah dan tegakah kita menyalahkan matahari yang sesungguhnya begitu bermanfaat untuk kita semua? Atau, apakah karena berkurangnya lapisan ozon di lapisan stratosfer?

 Pada sebuah berita, AOL News (Huffingtonpost) pada tanggal 24 Mei 2010, Andres Schneider (Senior Public Health Correspondent), di Washington, mengatakan bahwa jumlah penderita kanker kulit tidak berkaitan dengan pengurangan atau penurunan lapisan ozon di stratosfer2). Tetapi, ditemukan bahwa hampir separuh dari 500 produk sunblock (sunscreen) yang paling populer di Amerika Serikat justru meningkatkan pertumbuhan sel-sel malignant (sel-selt tumor yang berkembang secara  progresif menjadi lebih buruk sehingga dapat menyebabkan kematian)  dan menyebarkan kanker kulit3). Dari 500 produk itu, hanya ada 39 yang diperkirakan aman.

 Filter ultraviolet yang digunakan pada sunblock justru dapat menimbulkan senyawa-senyawa berbahaya bagi tubuh, misalnya:
  • vitamin A yang difortifikasikan ke dalam sunblock (41% sunblock yang beredar di Amerika Serikat difortifikasi dengan vitamin A) justru merupakan senyawa yang bersifat photocarcinogenic (yang meningkatkan resiko kanker bila terkena paparan sinar matahari)4,5
  • hormon oxybenzone pada sunblock (hampir 50% cairan sunblock terdiri atas oxybenzone) akan menembus kulit dan masuk ke dalam peredaran darah. Hormon ini akan mengganggu fungsi kelenjar endokrin dan merusak sel-sel tubuh (membuat kerusakan sel-sel lemak, protein dan DNA) serta dapat mengakibatkan berat badan bayi yang baru dilahirkan menjadi sangat rendah bila hormon ini masuk ke dalam tubuh sang ibu ketika masih hamil6).
  •  banyak sunblock yang mengandung triethanolamine, sebuah senyawa yang dapat menyebabkan kanker karena mengahsilkan nitrosamine begitu bereaksi dengan nitrit(senyawa ini digunakan sebagai pengawet tetapi sering sekali tidak disebutkan pada label sunblock)7)
  •  banyak kandungan pada sunblock yang merupakan larutan kimia “serupa dengan estrogen” (“estrogen like-effects”) yang dapat mengakibatkan peningkatan resiko kanker, cacat lahir, penurunan jumlah sperma dan ukuran penis pada pria serta juga berbagai masalah kesehatan yang lain. Akibat samping “estrogen like” ini bisa serupa dengan efek yang terjadi akibat racun DDT, Diosin dan PCBs8). Larutan estrogenic ini (estrogen like) dapa meningkat hormon kewanitaan sehingga juga dapat berpengaruh pada perubahan sifat8).
  • dst
 Penggunaan sunblock secara rutin juga meningkatkan terjadinya kanker kulit melanoma (cutaneous melanoma)9) dan padahal sunburn (gosong, kulit terbakat) itu sendiri tidak menyebabkan melanoma10).Sunblock juga menghalangi (UVB) ultraviolet B untuk sampai ke kulit padahal hanya UVB inilah yang berfungsi mengubah turunan kolesterol dalam tubuh menjadi vitamin D3 yang bermanfaat untuk tubuh.Jadi, sesungguhnya dengan sunblock kita justru akan menghalangi fungsi sinar matahari sendiri untuk membantu tubuh memproduksi vitamin D yang bermanfaat.

 Paparan Sinar Matahari Pagi
Dari pandangan fisika, ultraviolet terdiri atas tiga macam, yaitu UVA, UVB dan UVC tergantung berapa besar panjang gelombangnya.  UVA tidak terserap oleh lapisan ozone. UVB terserap oleh lapisan ozone tetapi tidak sampai pada permukaan Bumi. UVC terserap oleh lapisan ozone dan atmosfer.

Oleh karena itu UVB hanya bisa sampai ke Bumi jika sudut sinar matahari di atas 500 dari cakrawala, atau sekitar pukul 10.00 hingga pukul 14.00 (karena kita tinggal di sekitar khatulistiwa). Ketika sudut datang sinar matahari lebih kecil dari 500  maka lapisan ozone akan memantulkan gelombang UVB dan meneruskan gelombang UVA saja.

Padahal hanya UVB saja yang berfungsi membantu tubuh membuat vitamin D311), dan UVA hanya membuat kulit gosong atau bahkan terbakar saja. Pada siang hari, semua ultraviolet sampai ke Bumi, termasuk UVA, tetapi pada pagi hari hanya UVA saja yang terutama sampai ke permukaan Bumi sehingga manfaat sinar matahari menjadi sangat kecil dalam membantuk produksi vitamin D.

Jadi, dapatkanlah sinar matahari siang (bukan pagi) jika kita ingin mendapatkan vitamin D, bukan sekedar “gosong”. Hindari sunblock agar tubuh bisa memanfaatkan UVB yang datang dan tidak menerima resiko yang berbahaya yang mungkin ditimbulkan oleh sunblock itu sendiri.

 Memanfaatkan UVB secara Maskimal
Vitamin D3 yang dhihasilkan tubuh akibat paparan UVB pada kulit tidak akan langsung masuk ke dalam peredaran darah agar dapat difungsikan dengan baik. Diperlukan sekitar 48 jam agar semua D3 yang dihasilkan itu bisa terserap dengan baik.

Jadi, jika kita mandi dengan sabun, kita akan membasuh dan mencuci bersih semua vitamin D3 yang dibentuk oleh kulit, sehingga kita tidak mendapatkan hasil yang maksimal. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk menunda penggunaan sabun setelah berjemur sinar matahari pada siang hari  sampai sekurangnya 2 hari,yaitu agar kita bisa mendapatkan dan memanfaatkan vitamin D3 secara maksimal. Atau, gunakanlah hanya pada bagian lipatan-lipatan saja.

 Walaupun demikian, bagi para pemula, tetap berhati-hatilah dengan UVA karena UVA bersifat membakar kulit. Lakukanlah secara bertahap hingga tubuh mengeluarkan pigmen (yang membuat kulit menjadi coklat) yang dapat melindungi tubuh dari paparan sinar matahari yang terlalu banyak.

 Pada awalnya, lakukan beberapa menit saja, kemudian kian hari, makin banyak pigmen perlindungan yang sudah kita peroleh makin lama kita bisa menikmati sinar matahari. Mereka yang berkulit gelap akan lebih bisa menikmati paparan sinar matahari dengan resiko terbakar atau pengelupasan kulit yang lebih kecil.

 Tapi, jika kulit kita terlanjur mengelupas, lakukan beberapa pengobatan atau mencari praktisi yang tepat (catatan : beberapa orang menggunakan lidah buaya atau chlorophyl) untuk mengobati kulit kita  dan jangan khawatir hal itu akan menyebabkan kanker. Kanker yang mungkin terjadi hanya karena penyebab lain, seperti sunblock, makanan, polusi dan berbagai hal yang lain.

 Dan, setelah sembuh, kita bisa mencoba berlatih kembali secara bertahap.Tidak takut dengan sinar matahari lagi bukan?Selamat menikmati!

 Semoga makin sehat, bugar dan keren!

 ——————————————————-



1) Menjadi Sehat itu Memang Sangat Mahal (5) , Sinar Matahari http://groups.google.com/group/segarbugarsepanjangmasa/browse_thread/thread/3926d1415d6e4163#

2)Professor Johan Moan of the Norwegian Cancer Institute found that the yearly incidence of melanoma in Norway had increased by 350% for men and by 440% for women during the period 1957 to 1984. He also determined that there had been no change in the ozone layer over this period of time. He concludes his report in the British Journal of Cancer by stating “Ozone depletion is not the cause of the increase in skin cancers” (Moan, J. & Dahlback, A. The relationship between skin cancers, solar radiation and ozone depletion. British Journal of Cancer, Vol. 65, No. 6, June 1992, pp. 916-21).

3)http://www.aolnews.com/2010/05/24/study-many-sunscreens-may-be-accelerating-cancer/ http://www.dailymail.co.uk/news/article-402776/Sunscreen-does-harm-good.html#ixzz1qTPfhvfK

4) http://www.ewg.org/” target=”_blank”>Environmental Working Group (EWG)http://www.sunaware.org/2010/05/24/ewg-some-sunscreens-may-be-photocarcinogenic/

5) Nneka Leiba, MPH, research analyst, Environmental Working Group (www.ewg.org), Washington, DC.

6) Separate Study Links Sunscreen Chemical to Low Birth Weight in Baby Girlshttp://www.ewg.org/release/cdc-americans-carry-body-burden-toxic-sunscreen-chemical

7) Bronaugh R.L. et al., “The Effect of Cosmetic Vehichles on The Penetration of N-nitroso-diethaolamine through excised Human Skin”, J Invest Dermantol 76 (2): 94-96, 1981.

8) http://www.skinbiology.com/toxicsunscreens.html#Free%20Radical%20Generators%20and%20Gender-Bending

9) Journal of Oncology; “Increase Melanoma After Regular Sunscreen Use”, American Society of Clinical Oncology, 2011.http://jco.ascopubs.org/content/early/2011/04/26/JCO.2011.35.5727.full.pdf+html

 Melanoma adalah tumor ganas yang berkembang dari melanosit. Sel ini ditemukan pada kulit, mata, epitel mukosa, dan leptomeninges.Melanoma dapa­t timbul di semua jaringan yang mengan­dung melanosit, akan tetapi jaringan kulit merupakan tempat tersering timbulnya melanoma.

Meskipun melanoma kulit (cutaneous melanoma) agak jarang terjadi, atau hanya sekitar 4% dari keseluruhan kejadian kanker kulit, tetapi mela­no­ma kulit mengakibatkaqn sekitar 80% kematian yang diakibatkan oleh kanker kulit. Kejadian melanoma kulit ini meningkat dengan cepat sehingga tiap tahun ditemui sekurangnya 50.000 kasus baru (American Cancer Society, 2002).

 10) Dr. Berwick pada penelitiannya pada tahun 1996 memperlihatkan bahwa tidak ada hubungan antara terjadinya melanoma dengan sunburn. Mereka yang menderita melanoma bukan karena sunburn tetapi lebih karena faktor-faktor lain.http://www.skinbiology.com/toxicsunscreens.html#Free%20Radical%20Generators%20and%20Gender-Bending

11)Hume, Eleanor Margaret; Lucas, Nathaniel Sampson; Smith, Hannah Henderson, “On the Absorption of vitamin D from the Skin”. Biochemical Journal 21 (2): 362–367, 1927.

–Makanan segar atau makanan kehidupan atau living food adalah makanan yang masih mengandung berbagai enzim kehidupan (berasal dari energi matahari melalui proses fotosintesa) dan yang tidak dipanaskan di atas 45 derajat Celsius. Daging, telur, ikan dan susu mentah tidak termasuk ke dalam golongan makanan kehidupan karena mereka tidak lagi mengandung enzim kehidupan.